09.00 (pagi di sekolah)
Hari ini hari pertama ku menjalani hidup sebagai penyiar radio part time pada sebuah stasiun radio di daerahku ini. Harapanku sudah tercapai kali ini, menjadi penyiar radio. Semoga hari ini aku bisa menjalaninya dengan baik.
11.30 (istirahat di sekolah)
“Tanti!” seseorang memanggilku. Aku masih sibuk dengan buku yang baru saja ku beli sehari setelah hari ulang tahunku. Rasanya berat untuk menoleh barang sekejap kearah sumber suara. Tapi aku yakin dia temanku.
“ya?, ada apa?” masih berkutat dengan buku, aku menjawab panggilannya.
Nafas temanku masih memburu, sepertinya dia telah lama mencariku dengan panic. Aku yang merasa heran menoleh. “Tan, ibu kamu di rumah sakit!” serunya terbata seraya menepis tetesan peluh didahinya.
Aku yang menoleh hanya untuk melihat keadaan temanku yang ngos-ngosan, menjadi terbelalak kaget. Rasa senang menerima pekerjaan baru tadi pagi bahkan itu masih bisa dihitung 2 jam yang lalu, sirna sudah. Entah sebesar apa bogem yang mengenai kepala dan hatiku secara bersamaan. Barita itu bukan hanya berita yang biasa hanya membuatku berdecak menganggap remeh. Ini soal ibu.
Hari ini hari pertama ku menjalani hidup sebagai penyiar radio part time pada sebuah stasiun radio di daerahku ini. Harapanku sudah tercapai kali ini, menjadi penyiar radio. Semoga hari ini aku bisa menjalaninya dengan baik.
11.30 (istirahat di sekolah)
“Tanti!” seseorang memanggilku. Aku masih sibuk dengan buku yang baru saja ku beli sehari setelah hari ulang tahunku. Rasanya berat untuk menoleh barang sekejap kearah sumber suara. Tapi aku yakin dia temanku.
“ya?, ada apa?” masih berkutat dengan buku, aku menjawab panggilannya.
Nafas temanku masih memburu, sepertinya dia telah lama mencariku dengan panic. Aku yang merasa heran menoleh. “Tan, ibu kamu di rumah sakit!” serunya terbata seraya menepis tetesan peluh didahinya.
Aku yang menoleh hanya untuk melihat keadaan temanku yang ngos-ngosan, menjadi terbelalak kaget. Rasa senang menerima pekerjaan baru tadi pagi bahkan itu masih bisa dihitung 2 jam yang lalu, sirna sudah. Entah sebesar apa bogem yang mengenai kepala dan hatiku secara bersamaan. Barita itu bukan hanya berita yang biasa hanya membuatku berdecak menganggap remeh. Ini soal ibu.


